Asal Mula Kisah 1001 Malam Bag.3

Asal mula kisah 1001 malam

Asal mula kisah 1001 malam

Asal Mula Kisah 1001 Malam Bagian Ketiga

Kisah 1001 malam hari ini merupakan lanjutan dari asal mula kisah 1001 malam bagian kedua. Yang mana pada bagian kedua Syahrazad meminta ayahnya bercerita tentang kisah keledai, sapi dan pemilik ladang. Sang menteri bercerita tentang kisah keledai, sapi dan pemilik ladang sebagai perumpamaan nasib yang akan menimpa Syahrazad jika masih berkeras ingin menjadi permaisuri raja syahrayar.

kisah 1001 malam
kisah 1001 malam tentang sapi, keledai dan pemilik ladang

Kisah 1001 malam tentang sapi, keledai dan pemilik ladang

Sang menteri bercerita kepada putrinya. Pada zaman dahulu kala, ada seorang saudagar yang kaya raya. Ia sangat kaya dan memiliki banyak harta serta hewan ternak. Dia memiliki seorang istri serta beberapa orang anak. Allah Swt memberikan anugrah kepadanya tentang pengetahuan dapat memahami bahasa binatang termasuk bahasa burung.Tapi anugrah yang diberikan Allah kepada saudagar mempunyai pantangan yaitu apabila seseorang mengetahui anugrah yang diberikan Allah kepadanya saudagar itu diketahui maka saudagar akan segera mati. Tempat tinggal saudagar itu sangat subur. Ia juga memelihara seekor keledai dan juga seekor sapi jantan.

Pada suatu hari sang sapi jantan mendatangi kandang si keledai. Dengan takjub sapi melihat kandang keledai kelihatan bersih karna selalu disapu dan tanahnya basah karna sering disirami. Tempat makan si keledai telah berisi gandum yang sudah disaring. Serta jerami kering yang tampak empuk. keledai sedang tertidur dengan penuh kenyamanan. Dan sapi kemudian kembali kekandangnya. Keledai hanya dinaiki oleh majikannya untuk suatu keperluan. Selebihnya hanya berada di kandang menikmati kenyamanannya.

Pada suatu hari sang saudagar mendengar percakapan antara sapi dan si keledai.

“sungguh menyenangkan keadaanmu wahai keledai” kata sapi kepada keledai.

“Sementara aku sedang kepayahan engkau justru menikmati istrahatmu dengan penuh kenyamanan sambil menyantap gandum yang halus. Dan mereka selalu melayanimu. Pada waktu-waktu tertentu saja majikanmu menaikimu kemudian dikembalikan lagi kekandang sementara aku terus menerus berada di sawah dan di penggilingan gandum.

“Hai sapi maukah kau kuberi satu nasehat ” kata keledai kepada sapi.

” Apabila engkau dibawa ke sawah dan mereka meletakkan alat penarik bajak di punggungmu, maka berbaringlah dan jangan berdiri walaupun mereka memukulmu. Jika kau berdiri segeralah untuk berbaring lagi. Jika mereka mengembalikanmu kekandang dan mereka memberimu makan dengan buncis jangan engkau makan. Berpura-puralah sedang sakit dan lemas dan tak bisa makan selam sehari, dua hari hingga tiga hari. Dengan begitu kau akan dapat beristirahat, memulihkan tenaga dan menghilangkan rasa penatmu.”

Penyesalan Si Keledai..

Saat itu saudagar kaya mendengarkan percakapan hewan peliharaannya dengan penuh perhatian. Ketika buruh tani yang biasa menggiring sapi ke sawah membawakan makanan sapi hanya makan sedikit. Pagi itu sang buruh tani akan menggiring sapi kesawah dan mendapati sapi dengan keadaan tidak berdaya hal ini langsung dilaporkan ke saudagar.

” Bawalah keledai untuk membajak sawah sebagai ganti sapi hari ini” perintah saudagar kepada buruh tani.

Kemudian buruh tani menggiring keledai untuk membajak sawah seharian. Pada sore hari keledai dikembalikan ke kandangnya. Melihat kedatangan keledai, sapi segera mengucapkan terima kasih atas nasehat keledai si sapi dapat beristirahat seharian melepas penat. Keledai tak menjawab ucapan terima kasih si sapi bahkan telah menyesal memberi nasehat kepada sapi.

Keesokan harinya keledai kembali digiring untuk membajak sawah seharian. Dan saat sore keledai di kembalikan kekandang dengan punggung lecet dan lemas akibat seharian membajak sawah. Sapi memperhatika keadan si keledai dan menyampaikan terima kasih telah membantunya dan memuji-mujinya.

” Biasanya aku tetap berada di kandang, beristirahat dengan nyaman tidak ada yang menyebabkanku menderita seperti ini selain kau ” kata si keledai dengan kesal. ” ketahuilah aku akan memberimu suatu nasehat, aku telah mendengar majikan kita berkata jika sapi tidak bisa bangun dari tempatnya lebih baik di serahkan kepada tukang jagal untuk disembelih, dikuliti kemudian dagingnya di bagi-bagikan sebagai kurban. Aku sungguh mengkhawatirkan keselamatanmu. Aku sengaja memberitahukan hal ini kepadamu agar kau bisa selamat” kata si keledai.

Mendengar hal itu saudagar tertawa terbahak-bahak hingga terlentang dari tempat duduknya.

“Apa yang membuatmu tertawa seperti itu” tanya istri saudagar seraya heran.

“Aku melihat dan mendengar sesuatu tapi aku tak dapat memberi tahumu karna aku terancam¬† kematian” kata si saudagar.

Penasarannya istri saudagar kaya

“Engkau harus mengatakannya padaku kenapa engkau tertawa seoerti itu” desak istri saudagar.

“Engkau harus mengatakannya kepadaku sekalipun engkau terancam kematian”. Paksa istri saudagar dengan penasaran.

“Aku tidak bisa mengatakannya,aku takut kematian,” kata sang saudagar tetap bersikukuh.

” Pasti engkau menertawakanku !” kata istri saudagar.

Sang istri saudagar terus mendesak agar saudagar dapat menceritakan penyebab yang membuatnya tertawa. Akhirnya sang saudagar menyerah dan bermaksud membuka rahasia yang di simpannya selama ini, walaupun itu harus ditebus dengan nyawanya. Namun ia kebingungan, ia lalu mengumpulkan anak-anaknya, hakim dan saksi-saksi sebab ia akan memberikan wasiat terlebih dahulu sebelumkepergiannya.

Sang saudagar mengumpulkan seluruh keluarga bahkan seluruh warga kampung. Kepada mereka ia akan menceritakan rahasia yang dapat berbahasa hewan. Dan ia akan mengungkapkan rahasia bahwa apabila ia menceritakan sesuatu yang di dengarnya dari hewan maka ia akan mati. Seluruh orang yang hadir membujuk istri saudagar agar menghentikan permintaannya itu.

” Sebaiknya engkau menghentikan permintaanmu agar suamimu tidak berhadapan dengan kematian, bagaimanapun ia adalah bapak dari anak-anakmu” kata orang-orang berusaha menasehati.

“Aku tidak akan menghentikan persoalan ini sebelum ia menceritakan rahasianya padaku sekalipun ia harus mati” kata sang istri menegaskan.

Mengetahui kekerasan hati istri sang saudagar, orang-orang tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan apa yang akan terjadi pada diri sang saudagar. Kemudian sang saudagar bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil air wudhu. Sesudah berwudhu ia akan menceritakan rahasianya dan bersiap untuk mati.

Terbukanya Pikiran Sang Saudagar

Selain memelihara keledai dan sapi, sang saudagar juga memelihara seekor ayam jantan dan 50 ekor ayam betina. Ia juga memiliki seekor anjing. Sesaat sebelum kematiannya ia mendengar percakapan antara ayam jantan dan anjingnya.

“Engkau selalu bersenang-senang dengan betina-betinamu, sedangkan majikan kita akan segera menghadapi maut” cela anjing kepada ayam jantan yang seolah tidak peduli terhadap nasib majikannya.

“Ada apa dengan majikan kita?” Tanya ayam jantan.

Anjing menceritakan kejadian yang di alami oleh majikannya.

” Demi Allah majikan kita kurang cerdas!” ucap ayam jantan.

“Aku mempunyai 50 ekor istri dan aku bisa menyukai atau membenci mereka sesuka hatiku. Sedangkan ia hanya memiliki seorang istri tapi tidak mampu mengatasi persoalan dengan istrinya.

Ia bisa saja mengambil sebatang dahan dan masuk kedalam kamar dan memukulnya sampai ia bertaubat dan istrinya tidak bertanya lagi tentang rahasianya.

Demikianlah cerita sang saudagar kaya mendengar ucapan ayam jantan dan ia segera mengambil dahan dan memukuli istrinya sampai ia tak bertanya lagi tentang rahasianya.

“Aku khawatir nak Raja Syahrayar akan memperlakukanmu seperti saudagar kaya memukuli istrinya”. Kata sang menteri kepada anaknya Syahrazad.

“Hal itu memang sudah seharusnya terjadi”, kata Syahrazad setelah mendengar cerita dari ayahnya.

Malam Pertama Ratu Syahrazad

Setelah mendengar ketetapan hati Syahrazad sang menteripun menyerah dan akhirnya mempersiapkan segala sesuatu dan membawanya kepada Raja Syahrayar. Sebelum keberangkatan Syahrazad, ia berpesan kepada adiknya,

” Jika aku telah ke istana aku akan mengutus pengawal untuk menjemputmu” kata Syahrazad kepada adiknya Dunzayad ” Ketika engkau telah di istana dan engkau melihat Raja hendak memenuhi hajatnya kepadaku, maka pintalah kepadaku agar aku menceritakan sebuah kisah aneh. Kita akan menghabiskan malam dengan ceritaku. Insya Allah, aku akan bebas pada malam pertama.”

Ketika tiba di istana, Raja Syahrayar segera menyambut menteri dan anaknya dengan gembira.

“Apakah engkau datang untuk memenuhi keinginanku?” tanya Raja Syahrayar.

“Benar yang mulia !” jawab sang menteri

Maka, Syahrazadpun resmi menjadi permaisuri raja. Ketika raja hendak masuk kekamar pengantin, Ratu Syahrazad langsung pura-pura menangis. Raja Syahrayarpun terkejut.

“Ada apa denganmu ?” tanya Raja Syahrayar

“Yang mulia hamba mempunyai adik perempuan. Hamba belum sempat mengucapkan kata perpisahan dengannya, ” Jawab Ratu Syahrazad sambil sesenggukan.

Rajapun mengutus pengawal untuk menjemput Dunzayad untuk dibawa ke istana. Tak lama kemudian Dunzayadpun tiba di istana. Ratu Syahrazad segera memeluk adiknya. Dunzayad duduk di lantai dekat ranjang pengantin. Sang raja kemudian membawa Ratu keperaduannya. Setelah selesai memadu cinta , Ratu Syahrazad mengajak Raja menemui adiknya. mereka duduk bersama bercakap-cakap.

“Demi Allah! sudilah kiranya kakak menceritakan sebuah kisah kepada kami sekedar menunggu rasa kantuk datang,” pinta Dunyazad kepada Ratu Syahrazad.

“Dengan senang hati adikku jika baginda yang bijaksana ini mengizinkannya,” jawab Ratu Syahrazad

Ketika mendengar percakapan istri dan adik iparnya, sedangkan hatinya sedang memikirkan cara untuk menghabisi nyawa istrinya, maka Raja Syahrayar merasa senang untuk mendengar cerita istrinya

Bersambung ke kisah malam pertama ya guys

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: