Asal Mula Kisah 1001 Malam bag.2

kisah awal 1001 malam

kisah awal 1001 malam

Kisah Awal 1001 Malam bag. 2

 

          Kisah awal 1001 malam adalah lanjutan cerita asal mula kisah 1001 malam bag. 1yang mana telah terbit pada pos sebelumnya. Post kali ini melanjutkan kisah antara Raja Syahrayar dan saudaranya Raja Syahzaman. Pada pos sebelumnya Raja Syahrayar heran dengan perubahan adiknya Raja Syahzaman dan bermaksud menanyainya perihal tersebut.

Raja Syahrayar terus mendesak adiknya. Dia berkata, “Dengan nama Allah yang maha kuasa, kuharap kau bersedia memberitahuku apa yang telah menyebabkan keadaanmu kembali pulih.” Karena merasa segan pada kakaknya Raja Syahrayar, Raja Syahzaman akhirnya menceritakan semua kejadian yang disaksikannya di taman istana siang tadi.

Namun rupanya Raja Syahrayar tidak mempercayai apa yang telah dituturkan oleh adiknya itu. Dia berkata, “Aku tidak bisa percaya semua ceritamu itu, sampai aku bisa melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri.

Tak kurang akal, Raja Syahzaman memberikan sebuah usul, “Baiklah, kalau begitu besok pagi kita berpura-pura seolah kita akan pergi berburu. Setelah itu, bersembunyilah bersamaku untuk menyaksikan peristiwa yang telah kuceritakan, langsung dengan kedua matamu sendiri.”

Keesokan paginya, Raja Syahrayar seolah-olah kembali mempersiapkan pasukan untuk diajaknya berburu. Pasukan yang akan mengikutinya tampak telah siap dengan segala sesuatunya. Tenda untuk berburu pun telah didirikan. Raja Syahrayar kemudian keluar dari istananya menuju tenda yang telah didirikan untuknya  dan kemudian, secara diam-diam, Syahrayar keluar dari tenda
dan kembali memutar masuk ke dalam istana untuk menemui adiknya Raja Syahzaman.

Kedua Raja kakak beradik itu kemudian duduk di seberang taman istana untuk melihat gerangan apakah yang akan terjadi.

Untuk pesanan nasi tumpeng klik disini

Benar saja. Tak berapa lama waktu berselang, masuklah sang permaisuri bersama beberapa orang budakya yang laki-laki dan perempuan. Dan mereka pun kembali melakukan hal serupa dengan apa yang telah diceritakan oleh Raja Syahzaman kepada Raja Syahrayar.

Kemarahan Raja Syahrayar

Ketika Raja Syahrayar melihat peristiwa menjijikkan itu dengan kedua mata kepalanya sendiri, dia merasa seolah-olah dunia gelap dan ingatannya telah hilang. Dia lalu berkata kepada adiknya Raja Syahzaman , “Ayo kita pergi dari tempat ini dik. Sungguh, kita tidak akan membutuhkan kerajaan seperti ini, sampai kita tahu bahwa ada orang lain yang telah mengalami peristiwa yang lebih berat dari apa yang kita alami. Lebih baik kita mati, karena kematian
sepertinya akan lebih baik buat kita berdua.” Raja Syahzaman menuruti ajakan kakaknya Raja Syahrayar. Melalui sebuah pintu rahasia, kedua orang Raja kakak beradik itu akhirnya pergi meninggalkan istananya.

Mereka terus saja berjalan mengikuti kemana langkah kaki mereka sampai akhirnya mereka tiba di sebatang pohon besar yang tumbuh di tengah sabana. Kebetulan, disamping pohon itu terdapat sebuah pancaran mata air yang letaknya berdekatan dengan bibir pantai. Mereka pun minum dari mata air tersebut dan kemudian duduk beristirahat untuk melepas lelah.

Terik siang baru akan reda ketika tiba-tiba Raja Syahrayar dan Raja Syahzaman melihat di tengah lautan muncul seekor makhluk hitam yang sangat tinggi menjulang ke angkasa. Setelah tegak berdiri, sosok hitam itu lalu mengdatangi tempat di mana mereka sedang beristirahat melepas lelah. Melihat sosok hitam itu mendekat, Raja Syahrayar dan Raja Syahzaman merasa sangat ketakutan dan segera berusaha memanjat pohon tinggi yang menjadi tempat mereka berteduh. Dari atas pohon yang mereka panjat itu, mereka bisa melihat apa sebenarnya sosok besar hitam yang tadi muncul dari tengah- tengah lautan

Pertemuan dengan gadis malang.,

Ternyata, setelah di amati yang menghampiri Raja Syahrayar dan Raja Syahzaman adalah sesosok
jin yang tubuhnya tinggi besar dan sepertinya membawa sebuah peti di atas kepalanya.
Jin itu terus berjalan hingga menghampiri pohon di mana kedua orang Raja kakak beradik
itu bersembunyi, dan kemudian duduk dipohon bawahnya.

Setelah duduk sejenak, jin itu kemudian menurunkan peti yang dibawa di atas kepalanya dan mengeluarkan sebuah kotak telah tersimpan di dalamnya. la lalu membuka kotak itu. Ajaib. Ternyata dari dalam kotak kecil itu terdapat seorang gadis yang tubuhnya bisa memancarkan sinar layaknya matahari.

Kisah awal 1001 malam
Kisah awal 1001 malam

Sambil memandangi anak gadis yang dikurungnya di dalam kotak yang dipegang, jin itu berkata, “Hai gadis yang kuculik saat malam pengantin, aku akan tidur untuk sejenak.” Jin itu kemudian meletakkan kepalanya di atas bahu gadis tersebut dan tertidur.

Setelah jin yang telah menculiknya tertidur, gadis yang malang itu menengok ke atas pohon untuk melihat siapakah yang bersembunyi di sana. Di atas pohon terlihat olehnya dua orang yang sedang bersembunyi. Dengan amat hati-hati, gadis itu lalu mengangkat kepala jin yang bersandar dibahunya dan meletakkannya ditanah, kemudian berdiri dibawah pohon tempat kedua orang tersebut bersembunyi.

Di bawah pohon itu, gadis itu menggerak-gerakkan tangannya memberi
isyarat kepada dua orang yang bersembunyi di atas pohon untuk segera turun. Gadis itu berkata, “Turunlah, kalian berdua tidak usah takut kepada jin ini.”
Mengetahui bahwa si jin telah tidur terlelap, Raja Syahrayar dan Raja Syahzaman akhirnya memberanikan diri untuk menjawab panggilan gadis tersebut dan turun dari
atas pohon untuk mendatangi gadis yang memanggil mereka.

Kisah Gadis di malam pengantin

Ketika Raja Syahrayar dan Raja Syahzaman telah berada di dekatnya, gadis itu mengambil sebuah kantung dari dalam sakunya. Kemudian dari dalam kantung itu, ia memperlihatkan seutas tali yang terkait pada lima ratus tujuh puluh buah cincin. Kemudian gadis itu berkata, “Apakah kalian berdua tahu benda apa yang sedang kupegang ini?”

“Tidak, kami tidak tahu,” jawab Raja Syahrayar dan Raja Syahzaman. “Tanpa sadar, para pemilik cincin ini menyerahkan begitu saja barang yang mereka punya kepadaku disebabkan kekuatan jin ini. Maka sekarang berikan cincin yang kalian miliki,” ujar si gadis. Raja Syahrayar dan Raja Syahzaman tanpa pikir panjang kemudian menyerahkan cincin yang mereka pakai kepada gadis itu. Si gadis lalu berkisah, “Sebenarnya jin ini telah menculikku pada saat malam pernikahanku. Setelah aku diculik, ia meletakkanku di dalam kotak kecil yang dia simpan di dalam sebuah peti yang dikunci dengan tujuh buah kunci. Dan sesudah itu, dia meletakkan peti di dasar lautan yang berombak besar. Rupanya jin itu tidak tahu bahwa jika seorang perempuan menginginkan sesuatu,
maka dia tidak akan pernah menyerah.” Dengan kepala yang dipenuhi banyak pertanyaan, kedua orang Raja kakak beradik itu akhirnya kembali pulang ke istana Raja Syahrayar.

Kisah awal 1001 malam dimulai disini

Setibanya di istana, Raja Syahrayar langsung memerintahkan untuk memenggal istrinya beserta semua budak yang melakukan perbuatan nista di istananya. Dan sejak saat itu, setiap hari Raja Syahrayar berubah tabiatnya dan selalu memerintahkan untuk disediakan seorang istri pada malamnya untuk dibunuh pada paginya setelah sebelumnya Raja Syahrayar terlebih dulu menikmati keperawanan istri yang dipersembahkan untuknya. Tiga tahun telah berlalu rupanya dendam kepada istrinya belum juga sirna. Raja Syahrayar masih melakukan kebiasaan
biadabnya itu. Seluruh rakyat yang tinggal di dalam kekuasaannya dicekam ketakutan, sementara para gadis banyak yang sudah merarikan diri keluar daerah kekuasaan sang Raja.

Sampai suatu ketika seluruh perawan yang tinggal di ibu kota kerajaan hampir habis, Raja Syahrayar kembali memerintahkan menterinya untuk menyiapkan perawan seperti hari-hari sebelumnya.

Dengan susah payah sang menteri mencari perawan untuk dipersembahkan sebagai istri kepada Raja Syahrayar, namun usaha sang menteri sia-sia karena tak ada seorang pun perawan yang berhasil dia dapati. Dengan perasaan tak karuan sang menteri kembali ke rumahnya, kecemasan terus menghantuinya disebabkan ketakutan yang luar biasa terhadap murka raja.

Alkisah, menteri ini memiliki dua orang putri yang sangat  cantik dan cerdas. Yang Kakak bernama Syahrazad, sedangkan yang adik bernama Dunyazad. Syahrazad adalah seorang putri yang cerdas dan telah membaca banyak buku tentang sejarah, riwayat hidup para raja-raja kuno, dan kisah umat-umat terdahulu.

” Aku belum pernah melihat ayah kebingungan seperti saat ini” kata Syahrazad saat melihat ayahnya pulang dalam keadaan murung. Padahal para penyair mengatakan:

Katakanlah kepada orang yang sedang menanggung kesedihan

” sesungguhnya beban kesedihan tak akan berlangsung lama

bagaikan rasa riang dan gembira yang segera hilang dari pandangan

seperti itulah beban kesedihan menghilang dari jiwa”

Setelah mendengar ucapan anaknya Syahrazad sang menteripun menceritakan semua kegundahan hatinya.

Kepergian Syahrazad ke istana

Setelah mendengar segala kegundahan dan kecemasan ayahnya terhadap raja Syahrayar. Syahrazad berkata

” Wahai ayahku, demi Allah, kawinkanlah aku dengan raja Syahrayar. Sebab dengan menjadi permaisurinya, mungkin aku bisa tetap hidup dan menjadi tebusan bagi gadis-gadis lain yang ingin bebas dari kekuasaanya.

” Demi Allah janganla engkau membahayakan dirimu sendiri”

” Ayah aku harus menjadi permaisuri raja Syahrayar agar dapat menyelamatkan gadis-gadis yang lain” Syahrazad bersikeras.

“Aku khawatir engkau akan bernasib sama dengan kisah keledai, sapi dan pemilik ladang.”

“Apakah yang terjadi antara kedua hewan itu ayah”

Dan Sang menteripun bercerita

Lanjut ke asal mula kisah 1001 malam bag.3 yaaa.,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: